JURNAL GIZI DAN KESEHATAN https://jurnalgizi.unw.ac.id/index.php/JGK <p> </p> <table border="1"> <tbody> <tr> <td bgcolor="silver"><strong>Jurnal Gizi dan Kesehatan (JGK)</strong> registered with a number <strong>ISSN: 1978-0346 (Print)</strong> and <strong>ISSN: 2580-3751 (Online)</strong>. Jurnal Gizi dan Kesehatan, abbreviated as JGK, is a journal that contains original articles (research), case reports, bibliography summaries, and other writings that are related to the health sector. JGK accepts articles in Indonesian and English. The Indonesian language used is good and correct Indonesian based on the General Guidelines for Improved Indonesian Spelling and the General Guidelines for the formation of Terms. The English language used uses the rules of the English language. Each published article is charged Rp. 400,000.00 (APC: ArticleProcessing Charge)</td> </tr> </tbody> </table> <p> </p> <p><strong>Jurnal Gizi dan Kesehatan (JGK) has been indexed/registered/mentioned in : </strong></p> <p><a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/6592" target="_blank" rel="noopener"><img src="https://jurnalgizi.unw.ac.id/public/site/images/admin/sinta1.png" /></a></p> UNIVERSITAS NGUDI WALUYO en-US JURNAL GIZI DAN KESEHATAN 1978-0346 Pengaruh Budaya Isap Buyu dalam Kepercayaan Masyarakat Kalimantan Selatan Terhadap Risiko Terjadinya Gizi Buruk Balita https://jurnalgizi.unw.ac.id/index.php/JGK/article/view/823 <p><em>Data Data from the World Health Organization (WHO) in 2022 shows that Indonesia ranks second in terms of the highest number of malnutrition cases among 84 countries, with a total of 812,564 infants. In South Kalimantan, based on 2020 data, the prevalence of stunting reached 11.9% and underweight infants reached 6.5%. The highest prevalence of underweight infants was found in Banjar District at 10.9%, while the highest prevalence of malnutrition reached 14.5%. Isap Buyu is a term in the beliefs of the South Kalimantan community referring to the condition of underweight infants who have difficulty gaining weight and face developmental delays. Isap Buyu is believed to be a disease caused by disturbances from supernatural beings, so its treatment often involves traditional Isap Buyu rituals. This study aims to analyze the relationship between belief in Isap Buyu and the occurrence of malnutrition in infants. The study uses a qualitative method with semi-structured interviews with four informants selected through purposive sampling. Data analysis was conducted through reduction, presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate a relationship between community beliefs about Isap Buyu and an increased risk of malnutrition in infants. These beliefs lead the community to prefer traditional treatments over healthcare services, which may worsen the infants' condition. Additionally, factors such as breastfeeding, dietary patterns, and the presence of comorbidities also contribute to the occurrence of malnutrition.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Data <em>World Health Organization</em> (WHO) tahun 2022 mencatat Indonesia menempati urutan kedua kasus gizi buruk tertinggi dari 84 negara dengan jumlah 812.564 balita. Di Kalimantan Selatan, berdasarkan data tahun 2020 prevalensi stunting mencapai 11,9% dan balita kurus 6,5%. Kasus tertinggi balita kurus ditemukan di Kabupaten Banjar sebesar 10,9%, sedangkan kasus gizi kurang tertinggi mencapai 14,5%. Isap Buyu merupakan istilah dalam kepercayaan masyarakat Kalimantan Selatan yang merujuk pada kondisi balita kurus, sulit gemuk dan mengalami hambatan dalam tumbuh kembang. Isap Buyu dipercaya sebagai penyakit akibat gangguan makhluk halus, sehingga penanganannya sering dilakukan dengan ritual tradisional Isap Buyu. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kepercayaan terhadap Isap Buyu dengan kejadian gizi buruk pada balita. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan wawancara semi terstruktur terhadap 4 orang informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kepercayaan masyarakat terhadap Isap Buyu dan meningkatnya risiko gizi buruk pada balita. Kepercayaan tersebut membuat masyarakat cenderung lebih memilih pengobatan tradisional dibandingkan layanan kesehatan yang dapat memperburuk kondisi balita. Selain itu, faktor pemberian ASI, pola asupan makanan, serta adanya penyakit penyerta juga turut berkontribusi terhadap terjadinya gizi buruk.</p> Gusti Viana Fadhina Ulfah Raida Athaya Sary Sary Agus Salim Sri Wahyuni Muhammad Irwan Setiawan Copyright (c) 2026 JURNAL GIZI DAN KESEHATAN 2026-01-29 2026-01-29 18 1 1 8 10.35473/jgk.v18i1.823 Pengaruh Edukasi Gizi terhadap Pengetahuan Ibu tentang Nutrisi Balita Stunting di Puskesmas Pulau Mandangin https://jurnalgizi.unw.ac.id/index.php/JGK/article/view/900 <p><em>Nutrition education is an effective strategy to improve maternal knowledge regarding appropriate nutritional intake for toddlers, particularly in efforts to prevent stunting. This study aimed to analyze the effect of nutrition education on increasing the knowledge of mothers with stunted toddlers. A pre-experimental design with a one-group pre–post test approach was employed, involving 42 respondents selected using simple random sampling. The research instrument consisted of a 20-item knowledge questionnaire that had been tested for validity and reliability. Nutrition education was delivered through lectures and leaflet media, followed by assessments of maternal knowledge before and after the intervention. The results showed a significant increase in knowledge, as indicated by changes in knowledge categories from pre-test to post-test and the Wilcoxon test result with p = 0.000. These findings demonstrate that nutrition education plays an important role in enhancing maternal understanding of toddler nutrition as a preventive measure against stunting. Routine implementation of nutrition education in healthcare settings is recommended to strengthen promotive and preventive efforts related to child nutritional health.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Edukasi gizi merupakan salah satu upaya efektif untuk meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pemenuhan nutrisi balita sebagai bagian dari pencegahan stunting. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi gizi terhadap peningkatan pengetahuan ibu yang memiliki balita stunting. Metode penelitian menggunakan desain pre-eksperimental <em>one group pre–post test</em> dengan melibatkan 42 responden yang dipilih melalui teknik <em>simple random sampling</em>. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan sebanyak 20 item yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Edukasi gizi diberikan melalui ceramah dan media leaflet, kemudian dilakukan pengukuran pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Sebelum intervensi, sebagian besar ibu berada pada kategori pengetahuan kurang (50,0%) dan cukup (47,6%), dengan hanya 2,4% yang memiliki pengetahuan baik, setelah edukasi, proporsi pengetahuan baik meningkat menjadi 64,3%, sementara kategori pengetahuan kurang menjadi 9,5% dan kategori cukup menjadi 26,2%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan perubahan kategori pengetahuan ibu dari <em>pre-test</em> ke <em>post-test</em> serta hasil uji <em>Wilcoxon </em>dengan nilai p = 0,000. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi gizi berperan penting dalam meningkatkan pemahaman ibu terkait pemenuhan nutrisi balita sebagai langkah pencegahan stunting. Penelitian ini merekomendasikan penerapan edukasi gizi secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat upaya promotif dan preventif terkait kesehatan gizi anak.</p> Ahmadi Mei Lestari Ika Widyyati Atik Ana Rafti Copyright (c) 2026 JURNAL GIZI DAN KESEHATAN 2026-01-29 2026-01-29 18 1 9 15 10.35473/jgk.v18i1.900 Gut Microbiota on the Incidence of Hypertension in Elderly Aged 60-89 Years : Scoping Review https://jurnalgizi.unw.ac.id/index.php/JGK/article/view/879 <p>Hypertension is a growing global health problem. Identification of the causes of hypertension is highly variable and challenging, but in reality, it is multifactorial, both internal and external, including genetic, environmental, hormonal, and inflammatory factors. Hypertensive patients have decreased gut microbiota diversity, which is strongly correlated with the presence of gram-negative bacteria, such as <em>Klebsiella, Streptococcus, Parabacteria, Desulfovibrio, Prevotella</em>. This article aims to review the results of previous research related to the influence of gut microbiota on the incidence of hypertension in the elderly, as well as the mechanisms that link gut microbiota to the occurrence of hypertension in the elderly. The method used is a scoping review with the PICOS approach (Population, Intervention, Comparison, Outcome, Study Design) in compiling questions as a reference to identify keyword concepts that are appropriate to the objectives and questions reviewed and to determine inclusion and exclusion criteria. The elderly tend to have more Enterobacteriaceae and Oscillospira associated with inflammation, whereas younger people have more Bifidobacteria and SCFA-producing bacteria. The elderly with hypertension exhibit significant differences in gut microbiota composition. Longer-lived individuals have a higher proportion of short-chain fatty acid (SCFA)-producing bacteria such as Bacteroides, Faecalibacterium, and Alistipes, which play a role in stabilizing blood pressure through acetate production. The gut microbiota is a key component in the pathophysiology of hypertension in the elderly, with dysbiosis contributing to inflammation, metabolic disturbances, and decreased therapeutic efficacy. The reviewed studies suggest that SCFA-producing microbiota have protective effects and may be a potential target in hypertension management strategies.</p> Untari Lintang Setia Putri Nurul Raudatul Zannah Citra Nur Indah Gina Katyana Anindita Copyright (c) 2026 JURNAL GIZI DAN KESEHATAN 2026-01-29 2026-01-29 18 1 16 25 10.35473/jgk.v18i1.879 Hubungan antara Persepsi Penyakit dan Kepatuhan Diet dengan Kontrol Glikemik pada Pasien Diabetes https://jurnalgizi.unw.ac.id/index.php/JGK/article/view/882 <p>Manajemen diabetes perlu dilaksanakan untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kesehatan pasien. Salah satu parameter untuk menilai keberhasilan manajemen diabetes adalah kadar HbA1c. Beberapa faktor dapat dimodifikasi yang mempengaruhi manajemen diabetes meliputi persepsi pasien terhadap penyakit dan kepatuhan diet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara persepsi penyakit dan kepatuhan diet dengan kontrol glikemik pada pasien diabetes. Penelitian ini menggunakan analisis korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasien rawat inap diabetes di RSUD Kudus. Sampel diambil dengan menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> yaitu pasien diabetes yang dirawat selama bulan Mei 2025, diperoleh 51 pasien. Pengumpulan data persepsi penyakit dilakukan dengan menggunakan formulir <em>Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ)</em> <em>(Cronbach's alpha 0,74)</em> yang terdiri dari 8 pertanyaan dan kepatuhan diet dengan kuesioner standar yang berisi 18 pertanyaan, data HbA1c diperoleh dari pemeriksaan laboratorium. Data HbA1c menunjukkan bahwa 13 (25,5%) pasien memiliki kadar glikemik terkontrol, sementara 38 (74,5%) pasien memiliki kadar glikemik tidak terkontrol. Persepsi pasien terhadap penyakit kategori positif sejumlah 28 (54,9%) pasien dan persepsi negatif 23 (45,1%) pasien. Pasien yang patuh terhadap diet berjumlah 29 (56,9%) pasien dan tidak patuh pada 22 (43,1%). Hasil uji korelasi <em>chi-square</em> menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dan kepatuhan diet dengan kontrol glikemik pada pasien diabetes (p &gt; 0,05).</p> Purbowati Amarilla Melati Sri Siska Mardiana Yulianto Copyright (c) 2026 JURNAL GIZI DAN KESEHATAN 2026-01-29 2026-01-29 18 1 26 31 10.35473/jgk.v18i1.882